Nasional

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Anambas, Daerah Terisolir yang Kaya Migas

Views September 27, 2015
Semua fraksi DPR menyetujui 12 Rancangan Undang- Undang tentang Pembentukan Daerah Otonom untuk ditetapkan sebagai Undang-Undang. Salah satunya adalah Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau (Kompas, 25/6).
Jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani RUU itu menjadi UU, berarti secara definitif Kepulauan Anambas menjadi kabupaten, terlepas dari kabupaten induk, yaitu Kabupaten Natuna.
Mengapa Kepulauan Anambas diusulkan menjadi kabupaten tersendiri? Banyak faktor yang dapat dijelaskan. Misalnya, dari segi ekonomi, potensi kekayaan alam berupa ladang minyak dan gas bumi (migas) yang dapat menjadi sumber bagi pendapatan bagi daerah. Selain itu, faktor geopolitik juga memengaruhi pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas.
Kepulauan Anambas merupakan gugusan pulau yang terletak di Laut Natuna dan di bagian utara dikelilingi Laut China Selatan. Kepulauan Anambas juga berbatasan dengan tiga negara, yaitu Malaysia di sebelah barat serta Vietnam dan Thailand di sebelah utara.
Meskipun terisolir, Kepulauan Anambas memiliki potensi migas yang besar. Sebagai gambaran, perusahaan migas ConocoPhillips melakukan eksploitasi di perairan Kepulauan Anambas dan menjadikan Pulau Palmatak sebagai basis dari kegiatan eksploitasi migas.
Potensi gas di Kabupaten Natuna pun masih besar. Sebagai gambaran, potensi gas di sumur gas di Blok Alfa D di Kabupaten Natuna saat ini mencapai 46 triliun kaki kubik (TCF). Ladang sumur itu diperkirakan baru dapat berproduksi tahun 2018. Potensi gas itu merupakan potensi terbesar di Asia Pasifik.
Ketua Umum Badan Pembentukan dan Penyelaras Kabupaten Kepulauan Anambas Muhamad Zen mengungkapkan, sektor migas memang menjadi salah satu sumber pendapatan bagi Kepulauan Anambas. ”Banyak lokasi sumur migas berada di Kepulauan Anambas,” kata Zen.
Selama ini, Kabupaten Natuna menjadi salah satu daerah penghasil gas terbesar di Indonesia. Dengan pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas, ”kue” migas dari dana bagi hasil (DBH) untuk Kabupaten Natuna pun akan terbagi ke Kabupaten Kepulauan Anambas yang baru nanti.
PAD migas
Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Natuna Basri mengungkapkan, DBH migas untuk Kabupaten Natuna tahun 2007 sekitar Rp 225 miliar. Sebagai perbandingan, pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Natuna sekitar Rp 4 miliar.

Menurut Basri, pendapatan DBH migas sebesar Rp 225 miliar itu masih kecil jika dibandingkan dengan nilai total dari produksi migas di Kabupaten Natuna. ”Pendapatan kotor dari hasil migas yang keluar dari perut bumi Natuna tahun 2007 mencapai Rp 21,8 triliun,” katanya.
Akan tetapi, kata Basri, dalam menghitung DBH, pendapatan kotor tersebut masih harus dikurangi dengan berbagai potongan biaya. ”Misalnya pajak, cost recovery, seperti biaya eksplorasi, eksploitasi, dan ekspansi, serta biaya yang lain,” katanya.
Setelah potongan biaya diperhitungkan, menurut Basri, barulah DBH migas diperhitungkan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda). Untuk minyak, perbandingannya adalah pemerintah pusat sebesar 85 persen dan pemda 15 persen. Untuk gas, pemerintah pusat mendapat 70 persen dan pemda sebesar 30 persen.
Jika Kabupaten Kepulauan Anambas benar-benar terbentuk, seberapa besar Kabupaten Kepulauan Anambas dapat menikmati pembagian DBH itu? Hal tersebut sangat bergantung pada negosiasi Pemerintah Kabupaten Natuna, Pemkab Kepulauan Anambas bersama pemerintah pusat nanti.
Masalah pembagian dari hasil sumber kekayaan alam di daerah tentu dapat menjadi isu yang cukup sensitif.
Hal tersebut setidaknya juga terlihat dari laporan akhir pengkajian pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas yang dibuat Pemerintah Kabupaten Natuna, Badan Pembentukan dan Penyelaras Kabupaten Kepulauan Anambas, serta Pusat Pengembangan Potensi dan Profesi. 

sumber berita dan gambar :
 http://www.anambaskab.go.id/statis-31-kekayaanalam.html

Tonggak Baru Industri Kopi Indonesia Dimulai

Views Agustus 17, 2015

LIPUTAN-AGRIBISNIS.COM – Mondelēz International meluncurkan program Coffee Made Happy di Jakarta,  sekaligus membuka Pusat Pelatihan Petani di Semendo, Lampung. Langkah ini merupakan wujud tekad perusahaan itu untuk memberdayakan petani kopi di seluruh dunia.

“Mondelēz International adalah salah satu perusahaan pembeli biji kopi Indonesia terbesar dan Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi fokus dari program Coffee Made Happy,” ujar Geraldine O’Grady, Global Coffee Sustainability Manager Mondelēz International.

Sebagai perusahaan kopi terbesar kedua di dunia, menurut Geraldine O’Grady, Mondelēz Internationali berkomitmen menginvestasikan minimum US$200 juta untuk memberdayakan satu juta petani kopi di beberapa negara penghasil kopi hingga tahun 2020.

“Coffee Made Happy adalah sebuah inisiatif global yang diciptakan untuk membantu generasi petani selanjutnya,” papar Geraldine.

Tingkatkan Produktivitas Kopi Petani Kecil

Bantuan itu, tambahnya, berupa langkah untuk menginspirasi, melatih, dan membangun kapasitas petani untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dan mengajak generasi muda terlibat di sektor pertanian mikro. 

“Melalui program ini, kami ingin membantu menemukan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi oleh para petani demi terciptanya pasokan yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Jadi,  lanjut Geraldine, program ini akan meningkatkan produktivitas dan kelangsungan hidup petani kopi berskala kecil, memperkuat praktik-praktik pertanian dan membangun komunitas kopi yang lebih berkelanjutan.

Mondelēz International sendiri memang telah berkolaborasi dengan berbagai mitra  seperti Rainforest Alliance, Institusi Penelitian Kopi dan KakaoIndonesia (ICCRI), 4C Association, dan IDH –Inisiatif Perdagangan Berkelanjutan– untuk menjalankan program berkelanjutan ini.

Tonggak Industri Kopi Indonesia

“Dengan memberi dukungan kepada para petani kopi Indonesia. Dari teknik pengolahan lahan dan pengendalian kualitas, hingga pengembangan dan implementasi rencana bisnis yang efektif, Mondelēz International berharap dapat berkontribusi terhadap transformasi industri kopi Indonesia,” urai Geraldine..

Jadi, tegasnya, Coffee Made Happy ini menandai sebuah tonggak baru bagi industri kopi Indonesia.

Pusat Pelatihan Petani di Semendo, Lampung, sendiri merupakanhasil kolaborasi antara Mondelēz International dan organisasi swasta di Indonesia. Pusat Pelatihan ini akan memberi pelatihan langsung kepada 3.000 petani berskalakecil.

Para petani tersebut akan mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan peralatan dan perlengkapan, pencatatan transaksi bisnis, dan pengaturan anggaran belanja,sertakemampuan untuk membuat rencana bisnis.

Sumber Berita:
http://www.liputan-agribisnis.com/berita-pilihan/tongggak-baru-industri-kopi-indonesia-dimulai
Sumber Gambar :  www.mondelezinternational.com.au/~/media/InnovationHub/en/Images/Media%252520Centre/Video%252520Library/COFFEE-MADE-HAPPY-Introduction.jpg

Sebagai Pengekspor Ikan Hias Dunia, Indonesia di Posisi Tiga

Views Agustus 16, 2015

LIPUTAN A – Indonesia saat ini menduduki posisi ketiga dunia sebagai negara pengekspor ikan hias. Sedangkan posisi pertama dan kedua dunia masih dipegang oleh Spanyol dan Jepang.

Nilai ekspor ikan hias Indonesia ke pasar dunia tersebut pada saat ini mencapai Rp1,7 triliun.

“Nilai ekspor ikan hias sebesarRp1,7 triliun itu didominasi oleh ikan hias air tawar,” ujar Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat membuka kongres Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI) di Depok, beberapa waktu lalu.

Menurut Slamet, potensi ikan hias air laut perlu lebih di gali secara optimal untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor ikan hias Indonesia.

Berdasarkan data statistik perikanan budidaya, volume produksi ikan hias selama periode 2010 – 2013 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 18,9% per tahun, yaitu 605 juta ekor pada tahun 2010 dan mencapai 1,137 miliar pada tahun 2013.

Bersaing Ketat di ASEAN

Namun, potensi yang ada harus terus ditingkatkan. Sebab, di kawasan ASEAN sendiri, ekspor ikan hias Indonesia masih harus bersaing dengan Malaysia dan Singapura.

“Infrastruktur pengembangan produksi ikan hias harus terus ditingkatkan. Khususnya yang terkait dengan distribusi, transportasi dan juga logistik,” tutur Slamet.

Untuk dapat berbicara di era Pasar Bebas ASEAN, lanjut Slamet, kita harus melakukan sinergi seluruh kekuatan stakeholder yang terkait dengan ikan hias, sehingga mampu memperkuat mata rantai produksi ikan hias dari hulu sampai hilir.

“Dengan begitu, kita akan mampu bersaing dengan negara lain, bahkan mampu menguasai pasar ikan hias secara global,” papar Slamet.

Sumber Berita:
www.liputan-agribisnis.com/berita-pilihan/sebagai-pengekspor-ikan-hias-dunia-indonesia-di-posisi-tiga
Sumber Gambar : 
cdn-2.tstatic.net/manado/foto/bank/images/ikan-hias-air-tawar.jpg

Biang Kerok Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi RI

Views Agustus 10, 2015

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2015 tercatat 4,67 persen, atau turun dari realisasi kuartal sebelumnya yang berada di level 4,72 persen. Ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,7 persen hingga semester I 2015, turun dari periode sama tahun lalu sekitar 5,17 persen.

Ekonom BCA, David Sumual menuturkan, perlambatan ekonomi Indonesia itu dimulai dalam dua hingga tiga tahun lalu. Hal itu seiring perlambatan ekonomi global dan harga komoditas turun. Padahal sebagian besar ekspor Indonesia komoditas. "60 persen ekspor Indonesia adalah komoditas jadi harga komoditas turun turut pengaruhi ekonomi Indonesia," ujar David saat dihubungi Liputan6.com, Senin (10/8/2015).

David menilai, Indonesia tidak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya terutama saat harga komoditas melonjak. Indonesia dinilai terlena dengan harga komoditas tinggi, sehingga giat ekspor sumber daya alam, dan tidak memberikan nilai tambah terhadap ekspor itu.

"Indonesia alami booming minyak pada 1970, lalu pada 1980 harga minyak turun kita mengalami devaluasi. Saat itu juga booming hutan tetapi tidak bisa dimanfaatkan. Lalu pada 2008-2013 booming komoditas, ini mirip-mirip tetapi Indonesia seperti jatuh lubang yang ke sama," kata David.

Karena itu, David menilai, Indonesia belum memiliki perencanaan ekonomi terintegrasi dan tak memiliki struktur bagus. Contoh saja Masterplan Percepatan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) kini sudah jarang terdengar gaungnya. David menilai, pemerintah tidak konsisten untuk menerapkan konsep pembangunannya.

"Jadi perlu perencanaan jangka panjang yang diatur dalam Undang-undang jadi tidak seenaknya diubah-ubah. Saat ini ganti pemerintahan ganti kebijakan," ujar David.

Selain itu, David mengatakan, Indonesia perlu mencari sumber pertumbuhan baru untuk mendukung ekonomi ke depan. Ekspor komoditas kini tidak dapat menjadi andalan di tengah harga komoditas tertekan. Indonesia harus menciptakan industri manufaktur sehingga tidak mengandalkan impor. "Ekspor manufaktur baru dapat terasa tiga hingga empat tahun lagi," kata David.

Sejumlah faktor baik internal dan eksternal mempengaruhi ekonomi Indonesia melambat tersebut. Faktor-faktor itu antara lain:

1. Harga komoditas turun mempengaruhi ekspor Indonesia

"Ekspor melemah seiring harga komoditas jatuh. Ekspor jatuh itu membuat pendapatan masyarakat terutama di daerah perkebunan, tambang menurun jadi daya beli masyarakat juga melemah," ujar Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro.

Berdasarkan data BPS, ekspor Indonesia turun 11,86 persen menjadi US$ 78,28 miliar selama periode semester I 2015 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 88,82 miliar. Ekspor minyak dan gas bumi (migas) turun 36,34 persen menjadi US$ 9,98 miliar pada semester I 2015 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 15,86 miliar. Ekspor non migas turun 6,62 persen menjadi US$ 68,30 miliar.

Sementara itu, impor turun 17,81 persen menjadi US$ 73,94 miliar sepanjang semester I 2015 dari periode saham tahun 2014. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor gas turun 39,91 persen menjadi US$ 13,10 miliar dan non migas US$ 60,84 miliar atau turun 10,74 persen.

Harga minyak internasional tertekan juga turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Harga minyak turun 43,3 persen secara year on year. Harga minyak berada di kisaran US$ 40 lebih per barel.

2. Realisasi Belanja Pemerintah Pusat dan Daerah Belum Optimal

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan, realisasi APBN semester I tahun anggaran 2015 antara lain belanja negara sekitar Rp 773,9 triliun atau 39 persen dari total pagu APBN-P 2015 sekitar Rp 1.984,1 triliun.

Kementerian keuangan mencatat penyerapan belanja pemerintah pusat sekitar Rp 436,1 triliun atau 33,1 persen dari pagu APBN-P 2015 sekitar Rp 1.319,5 triliun. Realisasi belanja pegawai mencapai 42,9 persen atau sekitar Rp 125,8 triliun dari total pagu sekitar Rp 293,1 triliun.

Belanja barang 25,1 persen atau sekitar Rp 60,1 triliun dari total pagu APBN-P 2015 sekitar Rp 238,8 triliun. Belanja modal, salah satu pengeluaran pemerintah yang diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi hanya mampu diserap sekitar Rp 30,2 triliun, atau 11 persen dari pagu APBN-P 2015 sekitar Rp 275,8 triliun.

Dorongan pertumbuhan ekonomi baru dari transfer ke daerah dan dana desar yang mencapai 50,8 persen dari Rp 337,7 triliun pada semester I 2015 dari pagu APBN-P 2015 sebesar Rp 664,6 triliun.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Keuangan, dana pemerintah daerah (pemda) yang masih terparkir di bank daerah mencapai sekitar Rp 273,5 triliun.

3. Rencana Kenaikan Suku Bunga Bank Sentral AS Tekan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), dari awal tahun 2015 hingga 10 Agustus 2015, nilai tukar rupiah melemah 8,5 persen dari 12.474 per dolar AS menjadi 13.536 per dolar AS. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS ini dinilai menekan daya beli masyarakat.

Hal itu juga mempengaruhi penjualan mobil, motor dan semen. Penjualan mobil turun 18 persen menjadi 525.458 unit hingga semester I 2015.

Data BPS pun menyebutkan pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 4,97 persen pada kuartal II 2015 dari periode sama tahun sebelumnya sekitar 5,1 persen. David menuturkan, harga komoditas melemah telah berdampak terhadap konsumsi masyarakat. Padahal biasanya sektor konsumsi paling bertahan.

Pertumbuhan konsumsi masyarakat biasa 5-5,5 persen, David menuturkan, pertumbuhan konsumsi masyarakat hanya di bawah empat persen. "Daya beli masyarakat turun dilihat dari penjualan mobil, semen dan motor. Selama ini impor kita tinggi jadi ketika nilai tukar rupiah melemah jadi daya beli masyarakat melemah," kata Ekonom BCA, David Sumual.

4. Ekonomi China Melambat

Saat ini pertumbuhan ekonomi China berkutat di angkat 7 persen. Andry menuturkan, ekonomi China melambat membuat permintaan komoditas merosot. Hal itu juga turut mempengaruhi ekspor Indonesia yang juga sebagian besar komoditas.

Dengan melihat kondisi tersebut, Andry memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sekitar 4,8 persen-5 persen pada akhir 2015. Pertumbuhan ekonomi itu akan ditopang dari realisasi belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga.

Pertumbuhan ekonomi tersebut pun sama dengan prediksi David. Realisasi belanja pemerintah dan daya beli masyarakat diharapkan dapat kembali stabil sehingga membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia."Pertumbuhan ekonomi 5,3 persen untuk semester II. Jadi akhir tahun bisa lima persen, dan juga bisa di kisaran 4,8 persen-5 persen. Belanja pemerintah dan konsumsi masih jadi penopangnya," kata David.
Sumber Berita dan Gambar:
www.liputan6.com/bisnis/read/2290199/ini-biang-kerok-perlambatan-pertumbuhan-ekonomi-ri

Potensi usaha budidaya ikan air tawar

Views Agustus 09, 2015

Usaha budidaya ikan air tawar semakin hari semakin menggiurkan. Menurut laporan Badan Pangan PBB, pada tahun 2021 konsumsi ikan perkapita penduduk dunia akan mencapai 19,6 kg per tahun. Meski saat ini konsumsi ikan lebih banyak dipasok oleh ikan laut, namun pada tahun 2018 produksi ikan air tawar akan menyalip produksi perikanan tangkap.
Mengapa demikian, karena produksi perikanan tangkap akan mengalami penurunan akibat overfishing. Ikan di laut semakin sulit didapatkan. Bahkan bila tidak ada perubahan model produksi, para peneliti meramalkan pada tahun 2048 tak ada lagi ikan untuk ditangkap.
Dengan kata lain tidak akan ada lagi menu seafood di piring kita! Oleh karena itu diperlukan peningkatan produksi budidaya ikan air tawar sebagai subtitusi ikan laut. Sehingga kita bisa memberikan ruang kepada biota laut untuk berkembang biak.
Tingkat konsumsi ikan
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar merupakan pasar potensial untuk produk perikanan. Apalagi fakta saat ini menunjukkan konsumsi ikan perkapita Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan konsumsi penduduk negara berkembang lainnya.
Kalau kita menilik laporan KKP pada tahun 2011, konsumsi ikan masyarakat Indonesia hanya berada diangka 31,5 kg per tahun. Coba bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 55,4 kg per tahun! Kabar baiknya, pertumbuhan rata-rata konsumsi ikan di Indonesia cukup tinggi 5,04 persen per tahun. Jauh diatas Malaysia yang hanya 1,26 persen per tahun.
Dengan tumbuhnya perekonomian Indonesia, kesadaran masyarakat akan konsumsi ikan semakin tinggi. Ditambah lagi dengan adanya program Gemar Makan Ikan yang dikampanyekan KKP, angka konsumsi akan terus bergerak naik.
Budidaya ikan air tawar
Dari sisi produksi, pada tahun 2011 produksi perikanan nasional mencapai 12,39 juta ton. Dari jumlah itu, produksi perikanan tangkap sebanyak 5,41 juta ton dan produksi perikanan budidaya 6,98 juta ton.
Dari total produksi perikanan budidaya, jumlah budidaya ikan dalam kolam air tawar menyumbangkan angka hingga 1,1 juta ton. Sisanya adalah budidaya tambak air payau, budidaya di laut, budidaya dalam keramba dan budidaya jaring apung.
Kenaikan produksi budidaya ikan dalam kolam air tawar cukup pesat yaitu berkisar 11 persen setiap tahun. Hal ini menujukkan ada gairah besar di masyarakat untuk mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar. Tentunya pertumbuhan produksi ini mengacu pada permintaan pasar yang terus meningkat.
Lebih dari 70 persen produksi ikan air tawar diserap oleh pasar dalam negeri. Pulau Jawa menjadi penyerap terbesar mengingat jumlah penduduknya yang padat. Apabila dilihat dari potensinya, kebutuhan untuk pulau Jawa saja masih akan terus berkembang. Mengingat konsumsi per kapita ikan di Jawa masih di bawah konsumsi per kapita di luar Jawa.
Jenis paling populer
Produksi budidaya ikan air tawar dalam kolam didominasi oleh ikan mas, lele, patin, nila dan gurame. Lima jenis ikan tersebut menyumbang lebih dari 80 persen dari total produksi. Berikut sekilas profil ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia.
a. Ikan mas
Ikan mas (Cyprinus carpio) dipercaya datang ke Indonesia dari Eropa dan Tiongkok. Ikan ini berkembang menjadi ikan budidaya paling penting. Pada tahun 1860-an masyarakat di Ciamis, Jawa Barat, telah mempraktekkan pemijahan ikan mas dengan penggunakan kakaban ijuk. Praktek seperti ini masih diadopsi para peternak ikan hingga saat ini.
Ikan mas cocok dikembangkan di lingkungan tropis seperti Indonesia. Suhu ideal bagi pertumbuhannya antara 23-30 derajat celcius. Ikan ini bisa dibudidayakan dalam kolam tanah, kolam air deras dan jaring terapung. Secara total proses budidaya hingga ukuran siap konsumsi memerlukan waktu 4-5 bulan.
b. Ikan lele
Ikan lele (Clarias sp.) merupakan jenis ikan air tawar yang cukup populer. Ikan ini disukai karena dagingnya lunak, durinya sedikit dan harganya murah. Peternak pun menyukai ikan ini karena perawatannya mudah dan cepat besar. Jenis ikan lele cukup banyak. Namun hanya terdapat tiga jenis yang umum dibudidayakan di Indonesia.
Lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang efesien untuk dibudidayakan. Rasio pakan menjadi daging ikan lele bisa mencapai 1:1. Artinya setiap pemberian pakan sebanyak 1 kg akan dihasilkan 1 kg peretambahan berat lele. Untuk mengetahui lebih detail mengenai cara budidayanya, silahkan baca panduan lengkap budidaya ikan lele.
budidaya ikan air tawar
c. Ikan patin
Di Indonesia terdapat 14 spesies ikan patin, namun yang dibudidayakan secara luas adalah patin asal Thailand yaitu Pangasius hypothalamus. Saat ini kebutuhan ikan patin budidaya terus meningkat. Bahkan, Indonesia masih mendatangkan ikan patin dari Vietnam untuk konsumsi dalam negeri.
Patin bisa dibesarkan dengan kepadatan 20-30 ekor per meter kubik. Tidak ada patokan ukuran ikan patin siap konsumsi. Sangat tergantung selera pasar masing-masing daerah. Biasanya para pembudidaya membesarkan ikan patin selama 6 bulan. Khusus untuk pasar ekspor ukurannya lebih besar lagi.
d. Ikan nila
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang mudah dipelihara dan gangguan penyakitnya tidak begitu banyak. Pembibitan nila cukup mudah. Dari sepasang indukan bisa dihasilkan 250-1000 butir telur. Waktu persiapan dari telur hingga menjadi benih berukuran 5-8 cm diperlukan waktu 60 hari.
Nila merupakan jenis ikan air tawar yang pertumbuhannya cepat. Jenis nila unggul pertumbuhannya bisa mencapai 4,1 gram per hari. Pertumbuhan ikan jantan lebih pesat dibanding ikan betina. Dibutuhkan waktu 4-6 bulan untuk membesarkan ikan nila hingga ukuran siap konsumsi. Untuk bacaan lebih lanjut silahkan lihat panduan dasar budidaya ikan nila.
budidaya ikan air tawar
e. Ikan gurame
Di negara lain, Ikan gurame (Osphronemus goramy) biasanya dipelihara dalam akuarium sebagai ikan hias. Namun di Asia Tenggara dan Asia Tengah, ikan ini merupakan ikan konsumsi yang disukai.
Di daerah Cianjur, Jawa Barat ikan gurame biasa dibesarkan sampai ukuran 3-4 kg. Mereka membudidayakannya di kolam-kolam pekarangan. Namun proses pembesaran seperti itu tidak ekonomis kalau dilakukan secara intensif. Pada umumnya ikan gurame dibesarkan hingga ukuran 0,5-1 kg per ekor.

Sumber Berita:
www.alamtani.com/ikan-air-tawar.html
Sumber Gambar:
energitoday.com/uploads//2013/10/perikanan.jpg

Transhipment dan Moratorium Turunkan Bisnis Perikanan 50 Persen

Views Agustus 06, 2015

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM- Upaya meminimalisir praktek illegal fishing di Indonesia, pemerintah akan merevisi UU perikanan yang dibuat tahun 2009.
Hal tersebut diutarakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, dalam diskusi opportunity and challenging of the ASEAN Economic Community 2015 di Harmoni One Hotel, Sabtu (7/2/2015)‎ pagi.
Selain memerangi ilegal fishing, Susi pun mengingatkan kepada setiap kepala daerah akan ‎pengaruh transhipment. Menurut Susi, transhipment dan moratorium sudah menurunkan aktifitas bisnis perikanan setidaknya 50 persen.
"Saya ingatkan kepada seluruh kepala daerah, kalau transhipment, jangan buka izin untuk kapal tangkap asing. Pakai kapal Indonesia saja, nelayan Indonesia saja. Indonesia harus jadi partisipan aktif, jangan jadi broker saja. Sekarang anggaran kita cukup kok untuk mendorong nelayan kita," kata Susi tegas.
Bukan mencampuri otonomi daerah, namun bagi Susi penting adanya konsep aturan yang sama antara pemerintah pusat dan daerah, agar menjadi solid.‎ Menurutnya, perlu peranan pers untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam sektor kelautan dan perikanan Indonesia.
"Sempat ada pressure kalau saya menenggelamkan kapal dari negara besar, kita akan dapat masalah. Tapi sekali lagi, kita harus tegas dengan pebisnis-pebisnis yang tamak mengakali negara kita, nelayan kita," ucap Susi.
Publik menurutnya akan menjadi auditor terbaik dalam setiap pengawasan kerja KKP maupun departemen lain di pemerintah.
"Kalau kantor auditor, yah mau dapat hasil no disclaimer okelah bisa diatur. Tapi kalau publik tidak seperti itu. Untuk audit yang dilakukan publik, media memberikan satu guideline. Inilah yang saya dukung, agar pers sehat untuk mewujudkan bangsa kita yang hebat" kata Susi.

Sumber Berita:
www.batam.tribunnews.com/2015/02/07/transhipment-dan-moratorium-turunkan-bisnis-perikanan-50-persen
Sumber Gambar:
img.bisnis.com/posts/2015/07/23/455966/130416_kapal%252520ikan,%252520ilustrasi.jpg

Follow us