Nasional

Tampilkan postingan dengan label FTZ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FTZ. Tampilkan semua postingan

FREE TRADE ZONE: Pemerintah Buat Kantor Khusus di Batam, Bintan, Karimun

Views Juli 31, 2015

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah akan menyelesaikan persoalan zona perdagangan bebas, dan kawasan industri di Batam, Bintan, dan Karimun, agar dapat menarik lebih banyak investor asal Singapura menanamkan modalnya di Indonesia.

Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan menyelesaikan persoalan regulasi, dan kewenangan daerah di Batam, Bintan, dan Karimun dengan membuat kantor khusus yang menangani persoalan zona perdagangan bebas, serta kawasan industri di ketiga kawasan tersebut.

"Kami ingin sekali lagi mengundang investor Singapura sebanyak-banyaknya untuk menanamkan investasinya di kawasan Batam, Bintan, Karimun, dan sekitarnya," katanya seperti dikutip laman resmi Sekretariat Negara, Selasa (28/7/2015).

Selama ini, ketiga kawasan tersebut menjadi tujuan utama investor asal Singapura untuk mengembangkan usahanya, karena lokasinya yang relatif dekat dengan negara tersebut. Akan tetapi, rumitnya perizinan dan regulasi investasi dalam negeri dianggap menghambat alur investasi.

Teten Masduki, Tim Komunikasi Presiden, sebelumnya mengatakan Presiden Jokowi membicarakan upaya peningkatan ekspor dan impor dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Tujuannya, Presiden ingin meningkatkan penjualan produk pertanian dan olahan unggas dari dalam negeri ke Singapura.

"Indonesia ingin meningkatkan ekspor produk-produk pertanian dan olahan unggas," katanya melalui siaran pers, Selasa (28/7/2015).

Teten menuturkan Presiden Jokowi juga meminta Singapura melakukan diversifikasi investasi di Indonesia. Pasalnya, saat ini Pemerintah Indonesia mendorong investasi sektor agribisnis, transportasi, komunikasi, dan energi.

Menurutnya, kunjungan Presiden Jokowi ke Singapura menjadi momentum baru bagi kedua negara untuk meningkatkan kepercayaan dan hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Apalagi, Singapura merupakan negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Dalam kesempatan itu, kedua negara sepakat untuk bekerjasama mengembangkan dan melakukan promosi cruise tourism. Indonesia dan Singapura juga akan mempercepat penyelesaian perbatasan maritim yang selama ini belum mencapai kesepakatan.

Sumber Berita dan Gambar:  

http://m.bisnis.com/industri/read/20150728/12/457090/free-trade-zone-pemerintah-buat-kantor-khusus-di-batam-bintan-karimun

FTZ Batam Diprediksi Jadi Sentral Manufaktur ASEAN

Views Juli 30, 2015

enerapan liberalisasi arus barang dan in ekspor baru.

Kepala Seksi Impor, Subdit Impor, Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu RI Dwiyono Widodo mengungkapkan dalam kerangka kepabeanan yang berlaku dalam MEA 2015, status FTZ memiliki kelebihan insentif yang bisa menjadi incaran investor di luar ASEAN.

Kesepakatan hambatan tarif dalam kerangka MEA 2015 hanya sebatas penghapusan bea masuk barang hingga 0% bagi negara sesama ASEAN, serta negara non-ASEAN yang terlibat free trade agreement (FTA) dengan kawasan ini.

Selain itu juga diberlakukan pembatasan, wajib regional of origin (ROO) ASEAN dan penerapan 40% konten regional dalam pengolahan.

Sedangkan Batam dengan status FTZ justru sebaliknya. Pemasukan barang ke kawasan ini selain bebas bea masuk juga menerima insentif bebas PPN, PPnBM dan PPh pasal 22. Pemasukan barang juga tidak diperlakukan ketentutan pembatasan, tanpa wajib ROO, regional content dan bebas dari negara mana saja.

"Dari perspektif kepabeanan, Batam unggul. Tetapi harus tahu apa yang harus dilakukan, yakni dengan ekspor sebanyak-banyaknya karena bisa impor dari mana saja sehingga bisa produksi untuk siapa saja," ujarnya di Batam, Jumat (22/5/2015)

Menurutnya, dengan keunggulan itu wajar saja jika negara non-ASEAN dalam MEA nanti mencari lokasi basis produksi yang memberikan kemudahan arus barang untuk mengincar pasar di kawasan ini.

Lembaga pengelola FTZ BP Batam juga dinilai harus menyiapkan langkah untuk menambah industri yang berorientasi ekspor yang selama ini didominasi ke Singapura.

Sebagai gambaran peta perdagangan ekspor Batam di kawasan ASEAN masih didominasi Singapura di kisaran USD800 juta hingga pertengahan tahun lalu dan Malaysia USD93 juta. Sementara sisa tujuan ekspor yakni AS, Jepang, Australia, China, Korsel, Belanda, UAE dan Spanyol, sebagai 10 negara tujuan ekspor terbesar.

"Batam harus ingat bahwa saat MEA, kota ini bisa impor dari mana saja. Ekspor bukan hanya ke Singapura," imbuh dia.

Sementara itu, Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha Pelindo II Saptono R Irianto mengungkapkan, kesiapan sektor pelabuhan di Batam juga harus menjadi perhatian melalui kesiapan menampung kapal ukuran besar, dengan pendalaman alur laut lebih dari 14 meter. BP Batam juga harus mewujudkan pelabuhan internasional.

Terlebih, saat ini pasar kargo dunia melintasi China dan Asia Tenggara hingga 70% atau sekitar 60 juta TEUs. Namun kendalanya saat ini adalah mahalnya biaya logistik dan lamanya waktu sandar kapal (dwelling time).

"Kalau pelabuhan di Batam tidak siap, kapal-kapal itu ke negara tetangga. Industri juga ke tetangga jadi tidak boleh lengah," pungkas Saptono.

Sumber Gambar dan Berita:
ekbis.sindonews.com/read/1004116/34/ftz-batam-diprediksi-jadi-sentral-manufaktur-asean-1432271493

Follow us