Nasional

Tampilkan postingan dengan label Kepri Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepri Bisnis. Tampilkan semua postingan

Aquabis Investasi 25 Juta Dolar AS untuk Budidaya Botia di Karimun

Views Agustus 07, 2015

Satu lagi perusahaan asing melirik potensi maritim di Kabupaten Karimun, khususunya di Kecamatan Moro. Adalah PT Aquabis Island asal Australia yang menanamkan investasi untuk pengembangan budidaya ikan botia di perairan Pulau Cik Lim. Nilai investasi yang ditanamkan mencapai 25 juta dolar Amerika.

Kepastian PT Aquabis berinvestasi di Bumi Berazam, setelah perwakilan perusahaan di Singapura menemui Bupati Karimun Nurdin Basirun, Rabu (7/1) kemarin. Di hadapan orang nomor satu di Karimun itu, diutarakan niat PT Aquabis untuk segera merealisasikan pembudidayaan ikan botia yang bernilai ekspor.

Terutama tujuan Amerika, dan Eropa dengan harga tinggi. Untuk pemilihan wilayah, mereka sudah melakukan pemantau perairan di Moro sejak empat tahun lalu.

”Kita menyambut baik niat PT Aquabis berinvestasi. Ini merupakan salah satu penguatan poros maritim yang tengah digalakkan pemerintah Indonesia,” ungkap Nurdin Basirun.

Oleh karenanya, sebut Nurdin, Pemerintah Kabupaten Karimun akan mendorong agar perusahaan tersebut segera berjalan. Dengan demikian, akan semakin membuka peluang lapangan kerja bagi warga tempatan. Selain itu, juga bisa dijadikan alih transfer ilmu. Mengingat, peralatan yang digunakan merupakan peralatan modern dan canggih.

”Sudah pasti, masuknya perusahaan asing ini semakin membuka peluang lapangan kerja bagi warga tempatan. Kita berharap ada alih teknologi,” papar Nurdin.

Meski wilayah perairan Cik Lim yang berada di perairan terbuka, menurut Direktur PT Aquabisa, Martin, tidak menjadi masalah. Karena, teknologi pembiakan ikan botia menggunakan teknologi canggih bak aquarium raksasa yang ditanamkan di dalam laut.

”Tidak masalah meski berada di perairan terbuka. Karena pengembangbiakan ikan botia menggunakan sarana bak aquarium raksasa yang pengontrolannya pun menggunakan komputer,” jelas Nurdin menirukan ucapan Martin.

Untuk memastikan wilayah yang bisa dikembangkan budidaya ikan botia ini, Bupati Karimun Nurdin Basirun bersama instansi terkait, beserta perwakilan PT Aquabis akan langsung memantau ke lapangan, secepatnya. Sehingga, berkemungkinan bisa dikembangkan pula budidaya ikan botia ini di beberapa titik.

Sumber Berita:
www.batampos.co.id/08-01-2015/aquabis-investasi-25-juta-dolar-as-untuk-budidaya-botia-di-karimun/
Sumber Gambar:
3.bp.blogspot.com/-kDiliM8Ojas/UI39sPNh-JI/AAAAAAAABpU/jDNE9DTNcg4/s1600/download%252B(1).jpg

Sehari, Pinang Butuh 4 Ton Lele

Views Agustus 06, 2015

Tanjungpinang menyimpan potensi perikanan yang sangat besar. Terutama perikanan yang dibudidayakan di daratan seperti halnya lele. Sehari, Tanjungpinang butuh 4 ton lele segar yang siap dikonsumsi warga. Padahal, petani yang ada di Pinang hanya mampu memasok 3 ton saja. Artinya, Pinang masih berpotensi bagi pasar lele.
Hal ini terungkap saat kunjungan Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan didampingi Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Energi Kota Tanjungpinang, Irianto, Selasa (9/8), ke petani dan peternak ikan lele yang ada di Tanjungpinang.
Tatik, demikian sapaan akrab Suryatati mengawali kunjungannya ke petani cabai di Air Raja. Petani ini merupakan binaan dari pemerintah. Tohir (45), salah satu ketua petani binaan menjelaskan kepada Tatik bahwa luas lahan cabai yang sudah ditanaminya mencapai 1,5 hektar. Dan sudah panen belum lama ini.
Hasil panen pertama untuk cabai hijau mencapai 763 Kilogram (Kg) dan 25 Kg cabai merah dalam jangka waktu 10 hari. Sedangkan harga cabai yang dibeli pedagang cabai langsung ke kebun, Rp9.000 per Kg untuk cabai hijau dan Rp10 ribu untuk cabai merah.Dari penjualan ini petani mendapatkan dana Rp7.630.000.
Lalu, Tatik beranjak ke lokasi ternak lele milik Welly di Batu 14 Arah Tanjunguban. Welly (39), menjelaskan bahwa dirinya bisa panen lele per bulanya sebanyak 1,5 ton. Satu kilonya dijual Rp18 ribu ke pedagang. Saat ini kolam lele milik Welly berjumlah 18 kolam dan beberapa kolam sudah bisa dipanen.
“Biaya makan dari 18 kolam lele mengabiskan Rp9 juta per bulan. Belum lagi kami menyewa lahan ini dijadikan ternak untuk satu tahun Rp10 juta,” terang Welly kepada Tatik.
Welly juga mengaku pernah memasarkan lelenya ke Batam dan sekali panen bisa mendapatkan keuntungan Rp15 juta hingga Rp20 juta. Tatik juga berkunjung ke ternak ikan lainnya di Batu 13. Tatik malah sempat memancing ikan dan mendapatkan ikan yang cukup besar.
Lokasi ternak lele ini selain menyediakan tempat pemancingan yang diberi nama Lautan Tawar Batu 13. Juga ada 20 kolam ikan lele. Pemiliknya Bahari asal Bangka Belitung. Sekali panen lele bisa mencapai 4 ton perbulan dengan hargai perkilonya Rp16.000. Jenis lelelnya bukan lele jumbo tapi lele Sangkuriang yang bibitnya didapatkan dari Jawa Barat.
Tatik juga menyempatkan diri ke kawasan Lembah Asri Batu 10. Dalam kunjungan ini, Irianto, Kepala Dinas Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Energi Kota Tanjungpinang, menjelaskan dari empat kelompok tani yang dibina oleh Pemerintah kota Tanjungpinang, mampu menghasilkan kurang lebih 40 ton cabe merah dan hijau selama satu tahun. Sejak adanya petani binaan ini, pasokan petani lokal terutama cabe dan timun cukup baik.
Begitu juga dengan ikan lele. Permintaan ikan lele satu hari di Tanjungpinang mencapai 4 ton. Tapi hasil dari petani ikan lele masih kecil hanya mencapai 3 ton. Sedangkan satu tonnya ada dipasok dari luar dari Tanjungpinang.
“Ada 80 petani baik petani ikan lele maupun petani sayur mayur kita bina dibagi menjadi empat kelompok. Lokasinya ternaknya tersebar ada di Kampung Bugis, Air Raja, Dompak dan Pesona Asri,” pungkas Irianto.

Sumber Berita:
www.tanjungpinangpos.co.id/2011/19988/sehari-pinang-butuh-4-ton-lele/
Sumber Gambar:
ww.budidaya-ikan.com/wp-content/uploads/2012/05/panenlelesangkuriang-600x300.jpg

KEPULAUAN RIAU, PENUH DENGAN KEKAYAAN ALAM

Views Agustus 01, 2015

Sejak diresmikan sebagai Provinsi ke-32 di Negara Indonesia, Kepulauan Riau menunjukan perkembangan yang cukup signifikan. Berbatasan langsung dengan Vietnam dan Kamboja di bagian utara; Malaysia, Singapura dan Provinsi Riau di sebelah barat; Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi di bagian selatan; serta Malaysia, Brunei, dan Provinsi Kalimantan Barat di sebelah timur, Kepulauan Riau memiliki letak yang strategis dan kekayaan alam yang begitu melimpah ruah.

Terdiri dari empat kabupaten dan dua wilayah kota yang mencakup Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, serta Kabupaten Lingga. Secara administratif Kepulauan Riau memiliki 42 Kecamatan dan 256 Kelurahan/Desa yang rata-rata semuanya terdiri dari gugusan kepulauan. Melihat kondisi alam Kepulauan Riau yang 95% daerahnya merupakan lautan, sekarang ini sedikitnya terdapat 2.408 pulau besar dan kecil dimana sekitar 40% dari pulau tersebut belum memiliki nama dan belum berpenghuni.

Dengan menjadikan Tanjungpinang sebagai ibu kota provinsi, Kepulauan Riau terletak pada jalur lalu lintas yang sangat strategis dan berada tepat di bibir pasar dunia. Tidaklah heran bila kondisi tersebut memicu kemajuan ekonomi di Kepulauan Riau yang semakin hari kian pesat.

Nah, untuk mengetahui potensi bisnis apa saja yang bisa kita gali di Provinsi Kepulauan Riau, pada pekan ini sengaja kami informasikan beberapa sektor unggulan yang cukup potensial untuk diangkat sebagai peluang usaha.

Potensi Hasil Tambang
Kepulauan Riau merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi hasil tambang cukup berlimpah. Misalnya saja seperti sumber daya alam mineral dan energi yang meliputi bahan galian A (strategis) seperti minyak bumi dan gas alam yang terdapat di Kabupaten Natuna, bahan galian B (vital) seperti timah (di Kab. Karimun dan Lingga), bauksit (di Kab. Bintan, Karimun, Lingga, Tanjungpinang), dan pasir besi (di Kab. Lingga, dan Natuna), bahan galian golongan C seperti granit (Kab. Karimun, Bintan, Natuna, Lingga) , pasir dan kuarsa (Kab. Karimun dan Natuna), serta masih banyak lagi bahan tambang lainnya seperti Granulit, Diorit, Andesit, Kaolin, dan lain sebagainya.

Potensi Kelautan
Dikepung dengan lautan, menjadikan Kepulauan Riau sebagai salah satu daerah penghasil ikan yang cukup potensial. Bahkan sekarang ini tidak hanya ikan tangkap saja yang diandalkan masyarakat sebagai sumber pendapatan, namun mereka mulai mengembangkan usaha budidaya serta pembenihan ikan untuk meningkatkan perekonomian daerah setempat dan mendongkrak kapasitas ekspor hasil laut. Contohnya saja seperti di Kabupaten Karimun, yang belakangan ini mulai mengembangkan usaha budidaya ikan kakap, budidaya rumput laut, serta kerambah jaring apung. Sedangkan di Kota Batam tepatnya di Pulau Setoko, sekarang ini mulai dibangun pusat pembenihan ikan kerapu yang setiap tahunnya bisa menghasilkan benih hingga lebih dari 1 juta ekor. Selain itu, untuk mendukung pemasaran hasil laut di Kepulauan Riau, baru-baru ini telah dibangun sebuah Pelabuhan Perikanan Swasta Telaga Punggur di kota Batam yang mulai beroperasi sejak tahun 2010 silam sebagai salah satu pintu ekspor hasil laut dari daerah Batam ke beberapa negara tetangga, termasuk Negara Singapura.

Potensi Pertanianpotensi cengkeh
Selain memiliki potensi kelautan yang cukup melimpah, 5% daerah di Provinsi Kepulauan Riau merupakan daratan yang tingkat kesuburan tanahnya sangat bagus. Kekayaan inilah yang menjadikan seluruh daerah Kepri (Kepulauan Riau) berpotensi untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian yang potensial dan menghasilkan komoditas tanaman dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Sebut saja seperti potensi palawija, kelapa, gambir, nanas, dan cengkeh yang banyak ditanam di wilayah Kabupaten Bintan, Karimun, Natuna, dan Kota Batam. Serta komoditas tanaman lainnya seperti buah-buahan dan sayuran yang mulai dibudidayakan di beberapa kabupaten yang tersebar di Kepulauan Riau.

Potensi Pariwisata
Dianugerahi pesona alam yang begitu indah, membuat Kepulauan Riau selalu ramai dipadati wisatawan lokal maupun internasional. Bahkan saking banyaknya turis mancanegara yang berkunjung ke daerah tersebut, Kepulauan Riau sempat dijuluki sebagai gerbang wisata kedua bagi turis mancanegara, tentunya setelah kawasan wisata di Pulau Bali. Banyaknya objek wisata pantai yang tersebar di seluruh Kepulauan Riau, menjadikan daerah ini menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke Indonesia. Misalnya saja seperti Pantai Melur, Pulau Abang dan Pantai Nongsa yang terdapat di Kota Batam. Pantai Pelawan di Kabupaten Karimun, Pantai Lagoi, Tanjung Berakit, Pantai Trikora dan Bintan Leisure Park di Kabupaten Bintan, serta berbagai macam pesona wisata bahari lainnya yang ditawarkan kepada para wisatawan yang berkunjung ke wilayah Kabupaten Natuna.

Semoga informasi potensi bisnis daerah yang mengulas tentang kepulauan riau, penuh dengan kekayaan alam ini bisa memberikan tambahan wawasan bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh masyarakat di Indonesia untuk mengoptimalkan potensi unggulan di daerahnya. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.

Sumber ;
www.bisnisukm.com/kepulauan-riau-penuh-dengan-kekayaan-alam.html

Sumber gambar ; www.cdn.bisnisukm.com/2012/05/kepulauan-riau.jpg

Keyakinan Bisnis di Kepri Kuartal III Meningkat

Views Juli 28, 2015

BATAM - Keyakinan bisnis di kawasan perdagangan bebas Kepulauan Riau (Kepri) pada kuartal III/2014 berbalik meningkat untuk kali pertama dalam tujuh bulan terakhir.

Indikator investasi sepanjang kuatal III/2014 yang melihat kinerja pembentukan modal tetap bruto menunjukkan keyakinan usaha terakselerasi ke 10,6% sepanjang kuartal III sejak kuartal I, yang stagnan di 9,9%. Namun penguatan tersebut masih lebih rendah dibanding angka pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 11,6% (yoy).

Sementara otoritas moneter BI Kepri meramalkan kondisi indikator investasi itu akan terus menguat menjadi kekuatan ekonomi kawasan ini bersama konsumsi rumah tangga, asal kondisi aksi unjuk rasa dan faktor eksternal ekonomi global tidak berkepanjangan.

"Peningkatan investasi indikasi ekspektasi positif pelaku usaha terhadap kondisi bisnis di Kepri. Tapi resiko demo semoga tidak berkepanjangan," ujar Kepala BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra, akhir pekan ini.

Adapun total impor barang modal senilai USD424,91 juta, atau tumbuh sebesar sebesar 34,5% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 16,3% (yoy).

Peningkatan impor barang modal merupakan indikasi positif adanya peluang peningkatan kapasitas produksi dan diharapkan dalam beberapa waktu ke depan akan mendorong peningkatan output sektor industri.

Selain kepercayaan investor dan peningkatan impor barang modal, BI juga melansir pembiayaan investasi melalui kredit perbankan juga meningkat. Kredit investasi pada akhir periode kuartalan tercatat sebesar Rp9,2 triliun atau tumbuh 21,6% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan kuartal sebelumnya.

"Kredit investasi juga naik lebih tinggi dari sebelumnya. Periode sebelumnya hanya tumbuh 18,5%," ujar Gusti.

Gusti menjelaskan, penguatan pertumbuhan investasi di Kepri juga diyakini masih akan berlanjut pada kuartal IV. Kondisi sosial politik dan ekonomi yang tetap kondusif pasca pelantikan presiden dan kabinetnya akan menjadi salah satu faktor penopang pertumbuhan investasi. 

Selain itu, sejumlah kawasan yang dikategorikan sebagai kawasan berdampak penting dan cakupan luas bernilai strategis (DPCLS) di Kota Batam telah terbebas dari status hutan lindung dengan diterbitkannya SK Menhut No.867 tahun 2014 yang merevisi SK Menhut Nomor 463 tahun 2014. 

Sebelumnya, melalui survei maupun focus group discussion (FGD), investor seringkali mengungkapkan bahwa status hutan lindung yang ditetapkan pada beberapa kawasan DPCLS di Kepri menurut SK Menhut No.463/2013 telah menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan investasi.

Sumber Berita dan Gambar:
ekbis.sindonews.com/read/930978/34/keyakinan-bisnis-di-kepri-kuartal-iii-meningkat-1417341385

Pengusaha Singapura-Malaysia Ini Cari Mitra Bisnis di Kepri

Views Juli 28, 2015
BATAM - Pengusaha Malaysia dan Singapura yang ikut dalam pertemuan antarpebisnis di acara Business Matching 2015, Sabcdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/77342/big/malaysia-singapura130319a.jpgtu (7/3) mendatang, menginginkan mitra dari berbagai bidang bisnis untuk bisa bekerja sama.
"Kami ingin sekali bertemu dalam opportunity di Business Matching di Batam, berbagai bidang bisnis karena kami yang datang pun, dalam berbagai bidang bisnis," kata Dr Maemunah BT Said dari Dewan Perniagaan Melayu Johor Bahru, melalui sambungan langsung internasional, kemarin.
Pengusaha dengan bidang-bidang bisnis yang diharapkan bisa bertemu, terutama adalah bidang food and beverages, fashion, property beserta perusahaan pendukungnya, spa dan produk perawatan, agriculture, perusahaan perdagangan atau trading termasuk di dalamnya distributor.
Industri yang berkaitan dengan jasa pengangkutan barang, bidang usaha yang berkaitan dengan promosi, organized event, pelatihan dan lembaga yang bisa memfasilitasi networking, hingga bisnis yang berkaitan dengan perawatan kecantikan.
Dan tentu juga para penasehat hukum, karena jika terjadi transaksi dan kerjasama bisnis, yang menyangkut investasi, diperlukan badan hukum ikut membantu untuk menyiapkan peraturan kerjasama.
"Banyak usahawan dengan bidang khusus yang ada di Batam, tapi tak ada di Malaysia begitu juga sebaliknya," jelas Maemunah.
Menurut Maemunah, yang sudah beberapa kali ke Batam, Kepri memiliki keunikan produk dan jasa. Dari keunikan itu bisa dikembangkan kerjasama.
Usahawan dari Malaysia, lanjut dia, melihat Batam tidak hanya sebagai pasar untuk produk mereka, tetapi juga rekanan untuk menggali potensi Batam untuk dipasarkan bersama ke seluruh negara ASEAN. 

"Kita boleh bahu membahu untuk bisa masuk ke berbagai negara ASEAN. Jika kita belum bisa menembusnya sendiri, secara bersama kita bisa lakukan," katanya.
Penduduk negara ASEAN yang jumlahnya sangat besar ini, menurut Maemunah, adalah pasar yang sangat potensial. Dan tiap negara ASEAN memiliki keunikan masing-masing. 
Penduduk ASEAN sudah ada sekitar 633,1 juta jiwa. Nah, kebutuhan mereka itu banyak, pasar ini sangat potensial untuk kita lihat sebagai peluang bisnis," ujarnya.
Selain itu, bidang-bidang keahlian tertentu juga menjadi sasaran yang bisa dikembangkan, karena penerapan pasar bebas ASEAN juga berarti kemudahan untuk akses lintas orang atau professional untuk bisa saling berkiprah di berbagai negara ASEAN.
Kerja sama National Malaysia Chamber of Commerce and Industry kali yang pertama dengan Batam Pos Entrepreneur School, yang harapannya akan berkelanjutan.
"Dan penunjang pengembangan pasar bebas ASEAN," katanya.(jpnn)

Sumber Berita:
www.jpnn.com/read/2015/03/04/290477/Pengusaha-Singapura-Malaysia-Ini-Cari-Mitra-Bisnis-di-Kepri-/page2
Sumber Gambar:
cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/77342/big/malaysia-singapura130319a.jpg

Follow us