MEMACU DAYA SAING INDUSTRI MARITIM
Bisnis Kepri Kepri Kepulauan Riau MaritimKepulauan Riau memang merupakan daerah maritim. Bahkan, dari total luas wilayah daerah ini, daratan hanya tersisa 4 persen.
Tentu, potensi sumber daya maritimnya berlimpah. Bahkan, diyakini, untuk saat ini, potensi itu belum tergarap maksimal dan masih banyak dihasilkan nelayan asing.
Untuk memaksimalkan hasil dari potensi itu, Pemerintah Provinsi Kepri terus membuat beberapa rencana dan terobosan. Di antaranya, akan dibangun beberapa pelabuhan yang mendukung industri perikanan. Tujuannya, tak lain untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka lapangan kerja.
Rencana pembangunan industri perikanan itu disampaikan Gubernur Kepri, HM Sani, baru-baru ini. Saat ini, kata Sani, rencana strategis pembangunan industri perikanan itu masih disusun.
Industri perikanan dibutuhkan untuk mengolah hasil laut di Kepri yang cukup besar karena 96 persen wilayah Kepri adalah lautan. Kepri menghasilkan ikan tangkap rata-rata 360 ribu ton setiap tahunnya dan ikan budi daya 130 ribu ton setiap tahun. Jumlah itu masih sedikit jika dibanding dengan potensi yang dimiliki Kepri. Selama ini, potensi tersebut banyak dimanfaatkan oleh nelayan asing.
Untuk itu, pemerintah melakukan kajian guna mengembangkan industri perikanan di Kepri yang salah satu tujuannya adalah meningkatkan produktivitas hasil perikanan di Kepri. Salah satu hasil kajiannya akan dibangun beberapa pelabuhan perikanan. "Pemerintah akan membangun tiga pelabuhan perikanan dengan anggaran sekitar 30 miliar rupiah," jelas Sani.
Tiga pelabuhan perikanan yang akan dibangun terletak di daerah Antang, Kabupaten Kepulauan Anambas, kemudian di Parit Rampak, Kabupaten Karimun, dan di Selat Rampa, Kabupaten Natuna. Ketiga tempat tersebut selama ini merupakan sentra perikanan tangkap dan budi daya sehingga diperlukan pelabuhan khusus perikanan untuk menunjang industri perikanan di daerah itu.
"Rencana pembangunan pelabuhan perikanan di tiga daerah itu sedang dalam kajian dan Detail Engineering Desain (DED) dalam persiapan, termasuk DED untuk lanjutan pembangunan di Parit Rampak, Karimun," kata dia.
Anggaran untuk membangun tiga pelabuhan itu berasal dari APBN dan APBD. Untuk itu, telah diusulkan anggarannya ke pemerintah pusat. Pembangunan pelabuhan perikanan juga dimaksudkan sebagai tempat berlabuh kapal-kapal penangkap ikan, termasuk kapal asing yang mendapat izin dari pemerintah pusat dan daerah.***
Sumber Berita:
http://www.disperindagkepri.org/index.php?option=com_content&view=article&id=129:memacu-daya-saing-industri-maritim&catid=2:berita&Itemid=12
Sumber Gambar :
i431.photobucket.com/albums/qq38/BATAMANIA/maritim2.gif
DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS SERIUS MENGEMBANGKAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT
Anambas Bisnis Anambas Bisnis Kepri Kepri Kepulauan Riau Rumput LautPotensi rumput laut di Kabupaten Kepulauan Anambas sangat menjanjikan dilihat dari luas lautannya yang mencapai 98,7% (46.644,14 km2) dan daratannya hanya 1,3% (634,37 km2). Dengan lautan seluas itu dan banyaknya pulau-pulau kecil di dalamnya, tentu mengandung banyak potensi bagi pengembangan budidaya laut terutama budidaya rumput laut. Hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah dan pusat yang menetapkan Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai kawasan pengembangan kelautan dan perikanan. Apalagi ke depannya arah kebijakan pengembangan kelautan dan perikanan nasional akan lebih mengarah kepada pengembangan budidaya.
Untuk melihat potensi dan keseriusan pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Kepulauan Anambas, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Anambas telah melakukan Studi Kelayakan Pengembangan Budidaya Ruput Laut dengan melakukan kerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kepada Masyarakat Institut Peranian Bogor (IPB) pada Tahun 2011. Adapun tujuan dilakukannya studi ini untuk mengkaji kelayakan pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Kepulauan Anambas, menghitung dan menentukan luas kawasan pengembangan dan menyusun rencana pengelolaan dan pengembangan agribisnis rumput laut di Kabupaten Kepulauan Anambas.
Dari hasil studi oleh IPB telah menentukan sebaran lokasi pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Kepulauan Anambas sebanyak 21 zona, yakni Kecamatan Palmatak (6 zona), Siantan Tengah (3 zona), Siantan (2 zona) dan Siantan Timur (10 zona) yang paling banyak potensi pengembangan karena memiliki pulau-pulau kecil yang berpotensi untuk dikembangkan. Mengacu pada hasil kajian ini luas kawasan pengembangan ruput laut ini mencapai 1.343 Ha dan yang paling luas terdapat di Kecamatan Siantan Tengan (703,9 Ha).
peta rlGambar. 1. Lokasi potensial pengembanganbudidaya rumput laut di Kabupaten kepulauan Anambas
Produksi dari hasil studi yang diharapkan pengembangan budidaya rumput laut dengan luas area potensi yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Anambas mampu menghasilkan produksi 203.132,66 ton rumput laut basah atau 33.855,44 ton kering per tahun dengan asumsi harga pasaran rumput laut kering Rp. 8.000 – Rp.10.000; atau bisa menghasilkan ± Rp. 270,84 miliar pertahunnya dan Ini merupakan potensi besar yang memiliki nilai ekonomins yang tinggi untuk bisa dikembangkan di Kabupaten Kepulauan Anambas. Tentunya pengembangan budidaya rumput laut ini memerlukan waktu atau tahap pengembangan, dan perlu investor pengembangan dengan sistem kerja sama dengan masyarakat. Kerja sama dengan investor ini sangat dibutuhkan demi meningkatkan sarana dan prasarana pengembangan budidaya sampai tahap pengolahan rumput laut.
Untuk menggali dan mengembangkan potensi rumput laut di Kabupaten Kepulauan Anambas, diperlukan pelaku usaha budidaya rumput laut. Diharapkan masyarakat mampu memanfaatkan peluang yang ada tentunya dengan arahan dan bimbingan dari Dinas Kelautan dan Perikanan. Selama pengembangan, pemerintah daerah sudah melakukan pemberdayaan masyarakat dengan memberikan bantuan pembudidayaan rumput laut Tahun 2014 di Desa Lidi Kecamatan Siantan Tengah sebanyak 14 orang seluas 3,5 Ha. Diharapkan ke depan, masyarakat bisa mengembangkan budidaya rumput laut ini secara mandiri untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Program ini dilanjutkan pada tahun 2015, direncanakan penambahan pengembangan untuk 18 orang seluas 4,5 Ha.
Sumber Berita :
http://dkp.anambaskab.go.id/dinas-kelautan-dan-perikanan-kabupaten-kepulauan-anambas-serius-mengembangkan-budidaya-rumput-laut/
Sumber Gambar :
www.isukepri.com/wp-content/uploads/2013/03/Rumput-Laut-di-Laut-Madura.jpg
Usaha Kecil Menengah di Karimun Masih Menjanjikan
Bisnis Karimun Bisnis Kepri Karimun KepriKARIMUN (HK) - Membuka usaha kecil menengah (UKM) di Tanjung Balai Karimun masih sangat menjanjikan. Selain lokasi yang sangat strategis untuk memasarkan berbagai produk yang dihasilkan, sejauh ini pemerintah setempat juga memfasilitasi berbagai fasilitas guna memberikan keringanan bagi masyarakat yang ingin membuka usaha sendiri.
Imran, Kasi Kelembagaan Koperasi dan UKM Kabupaten Karimun mengaku, ditahun 2013 ini memang peluang untuk masyarakat kecil yang ingin membuka usaha dan memulai usaha berupa UKM sangat menjanjikan, sebab pemerintah telah menyediakan sarana dan prasarana guna untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
"Sejauh ini memang sangat berpeluang untuk membuka usaha seperti UKM, jadi kami harap bagi masyarakat yang ingin membuka usaha dan memulai usaha UKM, sangat berpeluang sekali, karena sejauh ini pemerintah Kabupaten Karimun telah memberikan fasilitas sarana dan prasarana untuk masyarakat kecil seperti di coastal area, masih banyak stand yang kosong, apalagi tidak lama lagi proyek pembangunan wisata di sana sudah mulai di buka," tutur Imran.
Imaran juga mengaku sejauh ini sudah 713 UKM yang terdaftar di tahun 2013, namun angka ini masih sedikit dibanding dengan Kabupaten yang berkembang pesat, apalagi aset dan penghasilan bumi karimun juga sangat menjanjikan, seperti hasil laut dan taninya, yang sudah mulai dilirik masyarakat luas. Aku Imran usaha ini sangat cocok dikembangkan guna membantu prekonomian masyarakat dan hasil bumi karimun bisa diolah menjadi beragam kuliner, cendra mata, kerajinan khas karimun dan cemilan seperti kerupuk khas Karimun.
"Untuk tahun 2013 ini memang sangat meningkat berkisar 10% peningkatan dari tahun 2012 kemarin, dan peningkatan UKM ini sudah sangat tinggi, berarti respon masyarakat sangat luar baisa. Saya rasa masyarakat masih berpeluang banyak untuk mengolah dan memperkenalkan produk-produk unggulan dari Kabupaten Karimun sendiri, mulai dari cemil-cemilan, dan aksesories rumah khas dari karimun dan tentunya kuliner hasil laut," tutur Imran.
Imran juga mengaku, selama ini pihaknya telah memberikan fasilitas yang menjanjikan bagi yang ikut bergabung bersama mereka dalam dunia usaha UKM di Karimun, mulai dari perndistrbusian, pelatihan dan menyediakan fasilitas. Agar masyarakat lebih sadar, jika usaha mendiri itu lebih menjanjikan ketimbang usaha besar, namun ikut dengan orang lain.(abk)
Sumber Berita:
http://www.haluankepri.com/ekonomi-bisnis/bisnis/55439-usaha-kecil-menengah-di-karimun-masih-menjanjikan.html
Sumber Gambr: http://cimg.antaranews.com/kepri/2011/04/ori/rd-gerai-makanan-khas-karimun-e-s.jpg
Meneropong Potensi Perikanan, Pertanian dan Peternakan di Provinsi Kepulauan Riau
Bisnis Kepri Kepri Kepulauan RiauHampir diseluruh wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau berpotensi untuk diolah menjadi lahan pertanian dan peternakan mengingat tanahnya subur. Sektor pertanian merupakan sektor yang strategis terutama di Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun dan Kota Batam.Luas lahan pertanian sawah pada Tahun 2011 di Provinsi Kepulauan Riau seluas
453 ha, meningkat drastis sebesar 225 persen, dari 453 hektar di tahun 2011 menjadi 1.021 hektar pada tahun 2012. Sedangkan untuk lahan bukan sawah justru mengalami penurunan 0,10 persen dari 537.661 hektar di tahun 2011 menjadi 537.093 hektar pada tahun 2012. Sektor perkebunan memiliki potensi yang besar terutama Tanaman karet, kelapa ,cengkeh . Nilai produksi karet yang dihasilkan adalah 11.820.550 Kg dengan rata-rata produksi sebesar 291 Kg/ Ha. Demikian juga dengan komoditas kelapa yang berproduksi sebanyak 1 2.070.540 Kg / th dengan rata-rata produksi 345 Kg/ Ha. produksi komoditas cengkeh 3.139.801 Kg dengan rata- rata produksi 329 Kg/ Ha. Sektor peternakan khususnya populasi sapi meningkat dari 8.323 ekor di tahun 2011 menjadi 17.255 ekor pada tahun 2012. Sedangkan populasi kambing 22.402 pada tahun 2012 Berdasarkan kajian Komoditi/Produk/Jenis Unggulan (KPJu) di Provinsi Kepulauan Riau diperoleh KPJu di Provinsi Kepulauan Riau sebagai berikut :
•sektor padi palawija adalah padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah dan sagu.
•sektor Sayuran adalah cabe, kacang panjang, ketimun, sawi, dan kangkung.
•sektor buah-buahan adalah durian, pisang, buah naga, pepaya, mangga.
•sektor perkebunan adalah karet, kelapa, cengkeh, lada, gambir.
•sektor peternakan adalah sapi, ayam ras pedaging, ayam ras petelur, ayam buras, dan kambing
Berdasarkan kajian komoditas unggulan daerah lokasi prioritas pengembangan komoditas unggulan sektor tanaman pangan sebagai berikut :
•Natuna : jagung, ubi kayu, bayam, kacang panjang
•Karimun : jagung, ubi Ialar, ketimun,
•Lingga : jagung, Ubi kayu, Kacang Tanah, ketimun, Sawi, Cabe besar,
•Bintan : bayam, Terungkangkung, Pisang
•Batam : bayam, pare, Rambutan,
•Tanjung Pinang : Bayam Cabe besar, Terung
Prioritas pengembangan potensi peternakan di Provinsi Kepulauan Riau :
•Kabupaten Natuna dapat diproyeksikan sebagal lokasi pengembangan sapi potong, kambing dan ayam buras.
•Kabupaten Karimun diproyeksikan untuk lokasi pengembangan temak sapi potong, kambing, dan itik.
•Kabupaten Lingga diproyeksikan sebagai lokasi pengembangan sapi potong dan kambingdan kerbau.
•Kabupaten Bintan di proyeksikan untuk lokasi pengembangan sapi potong, kambing dan kerbau.
•Kota Batam diproyeksikan sebagai lokasi pengembangan temak babi, sapi potong, ayam petelur dan ayam pedaging.
•Kota Tanjungpinang menjadi pasar komoditi pangan asal hewan temak.
PELUANG INVESTASI SEKTOR PERTANIAN
Potensi Kawasan Free Trade Zone sebagai Pasar Komoditi Pertanian, Kawasan Batam, Bintan dan Karimun yang merupakan kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas dapat menjadi potensi pasar bagi berkembangnya Kabupaten Lingga sebagai Kawasan Sentra Produksi Pertanian. Meningkatnya aktifitas di Kawasan Batam, Bintan dan Karimun secara tidak langsung akan menarik berbagai aktifitas, tenaga kerja, dan penduduk, sehingga kebutuhan akan produk pangan juga akan meningkat. Semakin bertambahnya jumlah penduduk di kota Batam, Tanjungpinang, kabupaten lain dan dari pendatang menyebabkan ketergantungan yang tinggi kebutuhan akan tanaman pangan dan holtikultura sangat terbatas dan dijual di pasar dengan harga yang tinggi dalam kondisi tertentu (misalnya cuaca kurang bagus, distribusi kurang lancar, gagal panen di Jawa/ Sumatera). Potensi besar pertanian dan perkebunan , dapat menyuplai [menyediakan) kebutuhan pangan masyarakat baik skala lokal dan seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau khususnya ke kawasan Free Trade Zone Batam, Bintan dan Karimun, serta jika memungkinkan hasil pertanian dan perkebunan tersebut dapat diekspor ke luar negeri melalui kawasan FTZ BBK tersebut. Berdasarkan potensi dan kebijakan pengembangan sektor pertanian dan perkebunan memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan lahan pertanian untuk tanaman pangan pada kawasan strategis yang ditetapkan untuk meningkatkan produksi dan pemenuhan kebutuhan lokal dan antar kabupaten/kota dan ekspor ke Singapore. Selain itu Masih tersedianya lahan pertanian yang luas di Kabupaten Lingga, Natuna, Anambas dan Karimun juga menjadi peuang untuk pengembangan investasi di sektor pertanian dan perkebunan.
Di sektor agro industri, Pembangunan industri/pabrik pengolahan produk tanaman pangan untuk memenuhi permintaan pasar di tingkat domestik, nasional dan luar negeri masih memiliki peluang yang sangat besar terkait dengan trend saat ini sebagai makanan oleh-oleh (Rue/cake), keripik yang bisa didistribusikan ke luar daerah kabupaten/ kota setempat. Di sektor pertanian hortikultura Provinsi Kepulauan Riau memiliki lahan area yang belum dimanfaatkan sebesar 83,6% . Kebutuhan pasar internasional yang sangat tinggi Singapura membutuhkan 2.500 ton komoditas hortikultura per hari, tetapi Indonesia hanya mengekspor 200 ton per hari. Untuk memenuhi kebutuhan pasar Singapura, Indonesia hanya bisa memasok 6% dari total kebutuhan mereka. Pangsa pasar buah Malaysia terbesar, yaitu 34 persen, diikuti China 15 persen, Amerika Serikat 10 persen, Afrika Selatan 8 persen, Thailand 8 persen, dan Indonesia 0,6 persen. Pangsa pasar sayur Malaysia di Singapura adalah 43 persen, China 29 persen, India 5 persen, serta Indonesia dan Australia masing-masing 4 persen. Mercermati potensi pasar , serta kebijakan pengembangan pertanian hortikultura di propinsi kepri , peluang peluang yang dapat di kembangkan antara lain
•Budidaya tanaman pangan pokok (jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, padi, ubi kayu, ubi jalar),
•Membuka lahan/kawasan pengembangan pertanian holtikultura pada beberapa kawasan unggulan holtikultura
•Membuka lahan/kawasan agrobisnis untuk pertanian holtikultura.
•Pembangunan industri/pabrik pengolahan produk tanaman holtikultura [buah-buahan) guna memenuhi permintaan pasar di tingkat domestik, nasional dan luar negeri
PELUANG INVESTASI SEKTOR PERKEBUNAN
Prioritas pengembangan komoditas perkebunan ekonomi dan sosial meliputi :
•Prioritas pertama Karet, Lada
•Prioritas kedua Kakao, Kopi, Cengkeh
•Prioritas ketiga Kelapa dala, Kelapa sawit
Potensi pasar pengembangan sektor perkebunan di kepulauan riau dapat diidentifikasi sebagai berikut:
•Ketersediaan hasil perkebunan yang bagus dengan cirri khas potensi setiap kota/kabupaten bisa dipasarkan pada lingkungan domestic maupun ekspor
•Pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat
•Sebagai sumber bahan baku apabila sudah tersedia pabrik pengolahan industry perkebunan di kota/kabupaten Kepulauan Riau ataupun di wilayah lain
Berdasarkan potensi sumber daya alam dan ketersediaan infra struktur yang mendukung sektor perkebunan maka peluang investasi pengembangan sektor perkebunan antara lain :
•Pengelolaan hasil perkebunan masih tradisional dan tumbuh secara konvensional, sehingga perlu pengelolaan dan pengembangan yang lebih terarah agar bisa menjadi penghasil tanaman perkebunan yang lebih intensif
•Kerjasama dengan pemerintah dalam pengelolaan hutan tanaman hasil industry. Hasil perkebunan dan juga merupakan penghijauan di daerah setempat perlu dibudidayakan dengan peningkatan teknologi pengelolaan tanaman perkebunan
•Mendirikan perusahaan pengolahan hasil tanaman perkebunan seperti pengolahan karet, cengkeh, kelapa untuk santan dan pabrik pengolahan sagu yang lebih modern dengan didukung fasilitas teknologi yang bagus
Beberapa peluang investasi yang dapat dikembangkan terkait dengan potensi sumber daya alam di sektor pertanian, perkebunan dan peternakan antara lain:
•Perkebunan jambu mete dan industri biji mete kering dan Cashew Nut Shell Liquid[CNSL
•Perkebunan lada dan industri biji lada putih kering dan biji lada hitam kering
•Perkebunan Kelapa dan Industri Minyak Kelapa
•Perkebunan Kelapa dan Industri Kopra, Serat (fiber), Arang Tempurung, debu (dust), Nata De Coco
•Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri Minyak Kelapa Sawit (CPO)
•Perkebunan Kopi dan Industri Pengupasan, Pembersihan dan Sortasi Kopi
•Perkebunan Kakao dan Industri Pengupasan, Pembersihan dan Pengeringan Kakao
•Perkebunan Cengkeh dan Industri Bunga Cengkeh Kering
•Perkebunan Karet dan Industri Sheet, Lateks Pekat, Industri Crumb Rubbe
•Perkebunan Tanaman Obat/Bahan Farmasi
Selain itu di Provinsi Kepulauan Riau juga memiliki potensi alam yang sesuai untuk pengembangan tanaman Sagu , khususnya di Kabupaten Lingga dan Kabupaten Karimun. Perkiraan produksi hasil yang paling mendekati kenyataan pada kondisi liar dengan produksi 40 – 60 batang/ha/tahun, jumlah empulur 1 ton/batang, kandungan aci sagu 18,5 %, dapat diperkirakan hasil per hektar per tahun adalah 7 - 11 ton aci sagu kering. Secara teoritis, dari satu batang pohon sagu dapat dihasilkan 100 -600 Kg aci sagu kering. Rendemen total untuk pengolahan yang ideal adalah 15%. Tanaman sagu memiliki banyak manfaat. Empulur sagu setelah diparut dan diolah lebih lanjut dapat dijadikan makanan ternak, media tumbuh tanaman Selain itu sagu juga dapat diolah menjadi tepung sagu untuk industri makanan, bahan bakar biofuel, bahan baku penyedap makanan, bahan bakku gula cair, bahan baku plastik ramah lingkungan
PELUANG INVESTASI Sektor Peternakan
Pengembangan Kawasan peternakan merupakan sebagai kawasan yang diperuntukan untuk kegiatan pengusahaan ternak dilakukan secara terpadu sebagai bagian dari komponen usaha tani lainnya (tanaman pangan, perkebunan, hortikultura atau perikanan) dan terpadu sebagai komponen ekosistem tertentu (kawasan hutan lindung atau suaka alam). Kawasan peternakan di Provinsi Kepulauan Riau diarahkan berdasarkan pendekatan berbasis pulau dan terintegrasi dengan tanaman pangan, perkebunan, hortikultura dan perikanan. Kawasan peternakan dibagi berdasarkan peruntukan skala agribisnis dan skala peternakan rakyat (backyard farming).
•kawasan agribisnis diprioritaskan pada Kabupaten Lingga, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Bintan serta beberapa pulau yang memiliki potensi dan kesesuaian dari aspek daya dukung lahan dan agroklimat.
•Khusus untuk Kota Batam, kawasan peternakan dikembangkan pada daerah hinterland.
•Sedangkan pengembangan sub sistem hilir peternakan diarahkan di kota Batam dan Kota Tanjungpinang
Berdasarkan morfologi dan ukuran ternak, maka ternak besar (sapi dan kerbau) dikembangkan di Kabupaten Lingga, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kabupaten Karimun, dan Kabupaten Bintan. Untuk ternak kecil (kambing, domba dan babi) diarahkan di Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan dan Kabupaten Lingga. Sedangkan ternak unggas diarahkan di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau. Peluang pasar hasil ternak, antara lain:
•Pangsa pasar hasil ternak terbuka lebar (lokal, domestik, ekspor);
•Mengurangi jumlah daging/kebutuhan sapi dari impor luar negeri.
•Dengan potensi lahan pakan cukup memadai mempunyai peluang untuk pengembangan populasi lebih besar
Potensi pasar hasil ternak di Kepulauan Riau, antara lain :
•Meningkatnya pertambahan penduduk, maka permintaan daging dan makanan hewani kian meningkat setiap tahun;
•Meningkatnya daya beli, sehingga kebutuhan daging/hewani meningkat;
•Terjadinya perubahan dalam pola konsumsi dan peningkatan dalam kesadaran gizi masyarakat; dan
•Meningkatkan jumlah wisata kuliner restoran, rumah makan di Kepulauan Riau sehingga kebutuhan akan daging hasil ternak juga meningkat.
Potensi Potensi di bidang peternakan difokuskan pada ternak itik, ternak sapi, ternak ayam dan ternak kambing yang umumnya masih dilaksanakan oleh peternakan kecil, Berdasarkan potensi sumber daya alam dan potensi pasar yang ada di Provinsi Kepulauan Riau, peluang investasi yang dapat di kembangkan antara lain :
•Pengembangan peternakan rakyat
•Pengembangan usaha budidaya peternakan (sapi, kambing, ayam ras, ayam petelur, ayam pedaging, itik dan babi) diarahkan pada suatu kawasan, baik kawasan khusus maupun terintegrasi dengan komoditi lainnya serta terkonsentrasi disuatu wilayah
•Industri pengemasan dan pengolahan hasil ternak
•Industri Pengasapan Karet
•Industri Makanan Olahan Dari Biji-bijian dan umbi-umbian, sagu, melinjo dan kopra
•Industri alat mesin pertanian yang menggunakan teknologi madya seperti perontok padi, pemipil jagung dan traktor tangan
•Persewaan Mesin Pertanian dan Peralatannya.
Sumber Berita :
http://bappeda.kepriprov.go.id/index.php/data-dan-informasi/potensi-daerah/29-potensi-daerah/80-sektor-pertanian-perkebunan-dan-peternakan
Sumber Gambar :
http://photos1.blogger.com/blogger/6395/1904/1600/Peta%252520Kepri.jpg
